DESAK SERENTAK TRAGEDI SEMANGGI 2!

Massa aksi berkumpul di depan gerbang Monumen Nasional seberang Istana Merdeka (24/9/2018). (Dok. Pribadi)

Semangat dan sorak para massa aksi bergemuruh kencang seperti desing motor dan gas Metromini yang mereka naiki meskipun sempat dihadang aparat keamanan saat berangkat dari kampus Atma Jaya Semanggi. Yuk,  dibaca selengkapnya!

Rafael Mezhwin (kanan) sebagai koordinator lapangan Aksi Peringatan Tragedi Semanggi 2 tahun ini dan Antonius Bagas (kiri), keduanya mahasiswa FH angkatan 2016 yang sedang memberi konferensi pers mengenai aksi. (Dok. Pribadi).

Jakarta, ViaductPress.com – Rangkaian aksi dimulai dengan konferensi pers di Hall C kampus UNIKA Atma Jaya Semanggi. Konferensi pers dibuka sekitar pukul setengah 10 pagi dengan pembicara Rafael Mezhwin sebagai koordinator lapangan aksi dan Antonius Bagas dari FH angkatan 2016. Dalam konferensi pers, Bagas menjelaskan bahwa yang berbeda dari tuntutan aksi tahun ini adalah jangan sampai kasus ini menjadi isu politik untuk Pemilihan Presiden yang akan datang sebentar lagi. Karena sebelumnya Presiden kita yang terpilih saat ini menggunakan kasus pelanggaran HAM sebagai bahan kampanye namun masih belum diselesaikan hingga saat ini. Rafael juga menambahkan “Jika kasus ini jadi alat kampanye capres, masyarakat juga tidak bodoh karena tidak akan tertipu untuk kedua kalinya. Sudah 5 tahun kepemimpinan Presiden Jokowi tapi belum ada aksi nyata beliau sehingga kami dari mahasiswa dan keluarga korban masih mempertanyakan janji itu.”

Suasana menjelang keberangkatan massa aksi dari samping Kampus UNIKA Atma Jaya Semanggi. (Dok. Pribadi)

Setelah massa aksi yang terdiri dari mahasiswa Atma Jaya mengelilingi kampus untuk mengajak mahasiswa dari kampus untuk bergabung, sekitar pukul satu siang massa aksi berkumpul di gerbang samping kampus UNIKA Atma Jaya yang berhadapan dengan Plaza Semanggi untuk menaiki bus Metromini dan berkumpul bersama massa yang membawa motor untuk menuju titik aksi pertama yaitu gedung Kejaksaan Agung Republik Indonesia di Jakarta Selatan. Sempat ada hambatan ketika perjalanan dimulai. Bus Metromini dihadang Polisi yang bertugas mengamankan dengan alasan massa tidak boleh naik ke atas atap Metromini. Setelah mendapat persetujuan dari Kapolda, perjalanan tetap boleh dilakukan dengan sebagian massa aksi berada di atap Metro Mini dengan syarat masing-masing massa aksi bisa bertanggung jawab untuk keselamatan. Akhirnuya sekitar pukul 13.28 WIB, massa aksi dapat memulai perjalanan menuju gedung Kejaksaan Agung RI.

 

 

Massa aksi baru sampai di depan gedung Kejaksaan Agung RI dan menyiapkan barisan. (Dok. Pribadi)

Massa aksi bersorak mengikuti orasi. (Dok. Pribadi)

Massa aksi menempuh perjalanan menuju gedung Kejaksaan Agung RI. (Dok. Pribadi)

 

Salah satu massa aksi sedang berorasi di gerbang belakang Kejaksaan Agung. (Dok. Pribadi).

Massa aksi berjalan menuju gerbang belakang Kejaksaan Agung. (Dok. Pribadi)

Massa aksi bersorak di depan Kejaksaan Agung. (Dok. Pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Setelah melakukan aksi di depan Kejaksaan Agung RI, pukul 14.45 WIB massa berkumpul untuk berangkat menuju titik aksi selanjutnya yaitu Pintu Monas yang terletak di seberang Istana Presiden Jalan Medan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat. Seperti di lokasi aksi sebelumnya, di sini mahasiswa memberi orasi bergantian. “Pengamanan yang disediakan oleh kepolisian setempat untuk aksi ini adalah berupa 3 Kompi Sabhara dan 2 Kompi Brimob Cadangan.” ujar Kombes Pol Roma Hutajulu, Kapolres Metro Jakarta Pusat.

Setelah aksi dilaksanakan di seberang Istana Negara, massa aksi kembali ke titik kumpulnya yaitu kampus UNIKA Atma Jaya Semanggi. Sesampainya di kampus, massa tak langsung kembali ke dalam kampus, karena setiap tahun aksi Tragedi Semanggi 2 selalu diakhiri dengan tabur bunga yang dilakukan di depan gerbang masuk parkiran Rumah Sakit Siloam yang terletak persis sebelah kampus Atma Jaya di Jalan Jenderal Sudirman. Seraya menyanyikan lagu ‘Gugur Bunga’, massa aksi bergantian menaburkan bunga ke foto dan almamater UI (almamater kampus asal Alm. Yap Yun Hap). Setelah itu, massa aksi yang berasal dari mahasiswa Atma Jaya kembali ke kampus masing-masing untuk melakukan absensi dan pulang menuju rumah masing-masing.

Salah satu mahasiswi sedang berorasi. (Dok. Pribadi)

 

 

Seusai aksi, Thomas Aquinas, mahasiswa FH angkatan 2017 sempat memberi tanggapannya mengenai aksi ini. “Bagus jika aksi ini masih ada karena yang buruk adalah ketika aksi ini sudah hilang. Meskipun penyelesaian hukum kasus ini masih abu-abu, tetapi kita sebagai mahasiswa harus mengingatkan masyarakat akan adanya substansi yang belum selesai, dan kebetulan ada pada janji pak Presiden Jokowi.” Ketika ditanyakan harapan mengenai kasus Tragedi Semanggi 2 ini, Thomas menjawab sesuai pengalaman peribadinya yang intuitif. “Menurut F.J. Stahl (filsuf asal Jerman), negara hukum itu bertahap dari ketertiban, kepastian, keadilan, kesejahteraan, dan kedamaian. Dalam mimpi saya, kepastian sudah ada karena tergambar dengan dipanggilnya orang yang bertanggung jawab dan diadili sampai keluar putusan. Akhirnya memiliki efek untuk kesejahteraan, yaitu agar tidak ada lagi ‘benalu’ atau otak dari tragedi ini. Kalau mereka tidak dihukum, berarti Pengadilan di Indonesia tidak sehat Jangan sampai orang berkuasa di negara ini padahal tidak berhak.” ujar Thomas.

Salah satu mahasiswa sedang memberi refleksi menjelang tabur bunga. (Dok. Pribadi).

Sempat ditemui setelah aksi berlangsung, Rafael, mahasiswa FH 2016 yang menjadi koordinator lapangan aksi ini sempat memberi tanggapannya mengenai aksi Tragedi Semanggi 2 ini. “Gue cukup bangga sama mahasiswa Atma dan di Indonesia karena masih mau turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mahasiswa. Apalagi yang kita peringati adalah tertembaknya Yap Yun Hap, mahasiswa FTUI saat mendemo RUU Penanggunglangan Keadaan Bahaya. Namun, saya kurang puas ketika lembaga terkait belum merealisasikan tuntutan mahasiswa.” Ia menyayangkan sikap kepolisian yang sempat melarang massa aksi naik di atas atap Metromini menjelang keberangkatan ke Kejaksaan Agung karena hal itu lumrah dan menunjukkan bahwa mahasiswa sedang menyuarakan tuntutan dengan melakukan aksi dan orasi untuk kemanusiaan tanpa berniat membuat rusuh. Tentu massa juga bisa menjaga diri masing-masing agar tetap selamat. Sempat ditanyakan soal hasil mediasi perwakilan BPM dan SEMA FH Atma Jaya dengan pihak Kejaksaan agung untuk menanyakan perkembangan kasus ini, ternyata kasus belum juga memiliki cukup bukti dan saksi. Rafael berharap kasus ini cepat diselesaikan sebagaimana harapan keluarga korban dan seluruh mahasiswa. Ia sangat mensyukuri adanya pahlawan reformasi yang telah memperjuangkan demokrasi hingga detik ini. Ia juga mengherankan mengapa mahasiswa menjadi musuh negara hingga ditembak oleh aparat negara.

 

 

Tabur bunga di lokasi tertembaknya Yap Yun Hap (Sekarang pintu masuk parkiran Rumah Sakit Siloam di Jl. Jend. Sudirman). (Dok.Pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

[Penulis : Vazza Muyassir]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook
Facebook
Instagram