Memperbaiki Catatan Hitam Suporter Sepakbola Indonesia

                                                                                                                             Sumber : Google

Viaductpress.com – Akhir-akhir ini sepakbola jadi sorotan di nusantara maupun mancanegara. Bukan karena prestasi yang di torehkan melainkan suatu keburukan dari aspek lain sepakbola. Pada tanggal 23 September 2018 sepakbola nusantara kembali berduka dengan kepulangan Haringga Sirla suporter dari klub ibukota Persija Jakarta. Mirisnya kematian Haringga Sirla diakibatkan oleh pengeroyokan sejumlah oknum dari Bobotoh. Ini menjadi rentetan catatan hitam sejarah sepakbola Indonesia.

Sebelumnya sepakbola di negara ini sudah banyak menelan korban jiwa. Di lansir IDN dalam rilis yang dikeluarkan Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI), terdapat 49 suporter sepakbola tewas dalam satu dekade terakhir. Data ini sangat mencengangkan dan menciderai esensi dari sepakbola yang seharusnya menjadi hiburan rakyat, 49 nyawa terbuang sia-sia hanya karena fanatisme.

Masyarakat Indonesia adalah salah satu negara penggila sepakbola. Mempunyai basis suporter yang besar jumlahnya. Dalam sepakbola suporter diibaratkan sebagai pemain ke dua belas, tanpa suporter laga sepakbola ibaratkan sayur tanpa garam: Hambar. Tetapi suporter juga diibaratkan pisau bermata dua; bisa menjadikan laga sepakbola menjadi dramatis dengan segala emosionalnya di lapangan, ataupun bisa juga menodai laga dengan tingkah lakunya seperti vandalisme, rasisme, dan kekerasan.

Kekerasan dalam sepakbola dan berujung maut bukan hanya terjadi di Indonesia, di eropa pun sama halnya. Masih jelas ingatan kita mengenai Tragedi Heysel pada tanggal 29 Mei 1985 laga yang mempertemukan Liverpool dengan Juventus. Menewaskan sebanyak 39 orang dan 600 lebih lainnya luka-luka. Saat itu kelompok hooligan hendak menerobos ke wilayah tifosi Juventus, dan naas dinding pembatas roboh yang tak kuasa menahan beban. Orang-orang tertimpa reruntuhan bangunan dan korban pun berjatuhan. Itu menjadi pelajaran berharga bagi sepakbola Inggris. Suporter Inggris merespon dan bebenah, sehingga sampai sekarang Inggris menjadi salah satu kekuatan besar di dunia sepakbola.

Negara ini bisa berkaca dari kasus-kasus sepakbola negara lain, sudah seharusnya sepakbola Indonesia berbenah dari segala aspek. Suporter adalah elemen penting, pola pikir penikmat sepakbola haruslah diubah. Memerangi kekerasan adalah tugas kita bersama, fanatisme harus diimbangi dengan hati nurani kemanusiaan. Memutus rantai warisan kekerasan dalam sepakbola harus dicamkan dalam pola pikir penikmat sepakbola di Indonesia. Sampai kapan Indonesia terus memakan korban jiwa? Sepakbola adalah hiburan semua kalangan dari muda sampai tua, wanita maupun pria. Mari bersama-sama kita menjaga keindahan sepakbola dan menjunjung tinggi sportifitas.

[Penulis : Lavergo Karosekali]

Facebook
Facebook
Instagram