Akhir dari Sebuah Neraka

                                                                                                     Sumber: Google

Dengan tatapan dingin aku hanya terdiam. Aku bisa melihatnya, dia sangat amat ketakutan. Semua ini sudah tidak sama. Tidak ada yang bisa memperbaiki ini.

“Maafkan gue, Key! Maaf! Tidak pernah sedikitpun gue bermaksud!” dengan gemetar wanita itu menatapku. Tangisannya semakin menjadi-jadi, dan aku tak menghentikannya. Ini bukanlah ceritaku, sebab dari awal aku hanyalah penikmatnya.

Namanya, Nia dan dia adalah sahabat semasa kecilku, dulu. Waktu itu dunia seakan milik kami, bermain bersama, satu sekolah, bahkan satu mimpi. Semakin besar, Nia tumbuh menjadi wanita yang sangat cantik dan dikenal banyak orang, tidak sepertiku. Memasuki masa-masa SMA kupikir semua akan masih sama, nyatanya tidak.

 

Nerakaku dimulai ketika hari pertama sekolah. Saat itu Nia beda kelas denganku, aku yang masih belum     punya teman baru menghampiri ke kelasnya. Siapa sangka, Nia sudah memiliki teman baru bernama Selly dan  Joan. Ketika ku menghampirinya, semua anak menutup hidung.

“Bau apa nih? Sampah ya?” ucap selly sembari menyipitkan mata

“wah gila! Lu dateng kok jadi bau busuk gini sih? Habis mulung, ya?” ujar Joan dengan tawa mengejek.

“Hahahahaha! kayak bau bangkai tikus tau ga. Keluar lu dari kelas ini, busuk.”

“tapi… “

Nia hanya menunduk, berdiam seribu bahasa. Seisi kelas mengejekku hari itu, ada yang tertawa, ada yang teriak-teriak, dan Nia berpura-pura seakan tak mengenalku. Hari itu, adalah awal dimana aku kehilangan sahabat. Satu sekolah menjulukiku tukang sampah, dan parahnya Nia juga menjadi salah satu yang menikmatinya.

Sudah dua tahun berlalu dan aku masih di tempat yang sama. Kelas 12 tidak merubah nasibku, aku hanyalah bulan-bulanan sekolah. Hingga suatu hari ada anak baru di sekolahku. Pria ini sangat pendiam dan duduk dibelakangku, Gerry namanya.

Karena Gerry, teman-teman Nia menjadi sering ke kelasku. Joan sangat tertarik dengan Gerry, hingga membuat Ryan mantannya cemburu. Sampai suatu saat ketika pulang sekolah, aku tak sengaja melihat mereka berdua saling pukul-pukulan. Tak lama dari itu Gerry pergi meninggalkan Ryan yang tergeletak tak berdaya.

Ku mendekatinya dan terkejut, Ryan telah ditusuk Gerry dengan pisau di perutnya. Aku tidak tau apa yang harus kulakukan. Keesokan harinya, sekolah berduka atas kepergian Ryan, semua menangis kecuali Gerry. Aku tidak tau apa yang terjadi dengannya, yang pasti aku satu-satunya yang tau siapa pelakunya.

Tiga minggu setelahnya ketika membereskan ruang wali kelas, baru kuketahui Gerry mengidap skizofrenia penyakit kejiwaan yang tidak bisa mengontrol emosi. Hal ini membuatku menyadari penyebab kematian Ryan. Ku melangkah pelan kearah belakang sekolah yang masih dalam perbaikan, dan disana aku melihat Gerry berduaan dengan Selly. Tak lama dari itu, Joan menghampiri Gerry dan menamparnya.

Entah apa yang terjadi, tapi Joan meninggalkan mereka berdua. Bisa terlihat mereka beradu mulut yang sangat panas, dan Gerry mencekik Selly. Seperginya Gerry, ku langkahkan kakiku kearah Selly, dan lagi-lagi ia tidak terselamatkan.

Tiga hari setelahnya, kabar Selly hilang telah menjadi duka setelah jenasahnya baru ditemukan. Pihak keluarga menjerit tak karuan saat itu, begitu pula dengan Joan dan Nia. Lagi-lagi hanya aku yang tau, dan aku harus segera bertindak.

Joan yang sedang berduka menjadi tidak masuk berhari-hari. Hingga suatu hari ketika aku duduk di tangga belakang gedung sekolah, tak sengaja aku melihat Joan dengan celana robek-robeknya menghampiri tempat Selly terakhir kali ditemukan. Ia menangis, dia benar-benar sedih rupanya. Seorang pria berjalan dari belakang Joan, sontak membuatku berdiri.

Setelah mereka beradu mulut, tak lama Joan dipeluk oleh pria itu. Tak sepantasnya kumelihat ini pikirku, tapi tak lama pria itu menempatkan Joan persis di sebelah tempat Selly, lalu pergi. Aku yang bingung langsung berlari kearah Joan, dan ternyata Joan ditusuk dengan pisau yang sama ketika Gerry menusuk Ryan. Nyatanya, Gerry melakukannya lagi.

Setelah kabar pembunuhan Joan terkuak, akhirnya semua orang tau pelaku dibalik Ryan dan Selly. Entah mengapa kali ini aku terpikirkan Nia, aku merasakan dia akan menjadi yang selanjutnya. Nyatanya benar, Nia diculik oleh Gerry dua hari setelah berita meluas. Dengan segera aku menghubungi pihak polisi, lalu pergi kearah gedung tak terpakai yang diduga tempat Nia berada.

Disana aku melihat Nia telah terluka parah terikat di kursi serta basah dengan bensin. Gerry yang panik melihatku, mengancam akan membunuh Nia. Nia hanya menangis dan menunduk.

“bunuh saja, kalau mau” ucapku sontak membuat Nia melotot kearahku, “Lagipula lu udah jadi buronan polisi, bagaimana juga lu pasti ketangkap.” Tambahku. Tak lama dari itu, Gerry memasukkan pistol ke mulutnya dan menembakkan diri.

“Makasih, Key. Makasih” Ucap Nia tersenyum dibalik tangisannya yang sudah agak mengering

“untuk apa?”

“lu menolong gua, Key! Makasih banget” Aku hanya tertawa sembari menuangkan bensin ke arahnya. Dia meneriakku gila, dan menanyakkan perbuatanku.

“gue ingin menyelesaikan apa yang telah dimulai. Menurut lu siapa dibalik kematian teman-teman lu?” tanyaku santai

“… ge-gerry”

“Gue, Ni. Dari awal gue liat Gerry yang ngelakuin itu. Tapi sebenarnya mereka masih bisa terselamatkan. Gue selalu menemukan mereka semua dalam kondisi masih bernafas. Ketika Ryan meminta tolong, sengaja gue tinggalin. Ketika Selly, sengaja gue yang ngubur biar ga ada yang tau. Ketika Joan, pisau yang ketancep sengaja gua cabut biar pendarahan, dan kali ini lu yang terakhir, Ni.”

“ta-ta-tapi.. kenapa lu biarin Gerry nge-nge..lakuin itu semua?”

“karena gue gamau punya catatan kriminal, Ni. Bentar lagi kita lulus, gue cuma mau nyelesain impian gue dan impiannya itu melihat kalian semua yang ngebully gua mati. Lagian juga Gerry kan punya penyakit mental sekalian aja kan gua manfaatin penyakitnya itu, jadi gua ga perlu capek-capek deh” jawabku sembari merogoh kantong Gerry mencari korek.

“KENAPA KEY! KENAPA? Kenapa lu kayak gini”

“menurut lu kenapa? Kenapa lu biarin gue tiga tahun melewatinya sendirian? Gue dibully, Ni. Mental gue udah hancur, orang tua gue cerai, rumah gue dijual, gue Cuma punya lu dan lu pergi.”

“Maafkan gue, Key! Maaf! Tidak pernah sedikitpun gue bermaksud!” api menyala sangat terang, dan aku hanya tersenyum “Key! Gua sahabat lu, key!” tambahnya

“maaf, dia udah mati” dengan santai ku melemparkan korek itu.

Api menyala sangat hebat, dan aku menutup mataku. Air mataku terjatuh, tidak menyangka begini ceritanya. Semuanya terasa menakjubkan, ternyata inilah rasanya surga. Aku berlari keluar gedung, dan didapatnya polisi yang mencoba membuka gedung itu.

Gerry dinyatakan menjadi pelaku kasus pembunuhan Ryan, Selly, Joan, dan Nia. Lima tahun telah berlalu, kini aku hidup dengan nyaman. Nasibku? Bebas dan bahagia, karena aku sudah tidak di neraka. Jika surga memang seindah ini, tidak masalah bagiku untuk memperolehnya dengan cara yang salah, asalkan aku tetap bahagia.

[Penulis: Florencia Melati Kusuma]

 

Facebook
Facebook
Instagram