Si Manis yang Tak Mudah Ditaklukkan

sumber : goodreads

Judul               : MIDAH Simanis Bergigi Emas

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara

Tebal               : 132 hlm

Ini merupakan sebuah novel ringan dan enak dibaca yang ditulis oleh salah satu penulis terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini: Pramoedya Ananta Toer. Kali ini pramoedya mengangkat perjuangan seorang perempuan untuk melawan kerasnya kehidupan Ibu Kota di tahun 1950-an. Perempuan itu bernama Midah.

Midah, gadis manis anak orang kaya yang selalu disayang dan dimanja oleh orang tuanya. Namun semua mulai berubah saat Midah memiliki adik yang tidak sedikit. Adik-adiknya seolah telah merampas apa yang menjadi milik Midah selama ini: kasih sayang dan perhatian. Tanpa kasih sayang dan perhatian, Midah seolah mulai dilupakan. Di masa-masa itulah Ayahnya berniat menjodohkannya.

Midah dijodohkan oleh Ayahnya dengan seseorang yang sama sekali tidak ia cintai, Haji Terbus.  Orangnya gagah, makmur, tegap, berkumis lebat dan bermata tajam. Midah menikah, namun baru mengetahui bahwa Haji Terbus mempunyai banyak istri saat dirinya sudah mengandung tiga bulan. Dia tak kuasa bertahan, tidak ada kedamaian dalam perkawinannya. Midah keluar dari rumah dan memilih untuk mengarungi hidupnya sendiri, diatas kakinya sendiri. Midah, si manis yang terbiasa hidup berkecukupan, kini meninggalkan semua kemewahannya dan coba melawan kerasnya kehidupan Ibu Kota bersama buah hati di dalam kandungannya.

Pertarungan demi pertarugan dijalani Midah di Jakarta. Menjadi pengamen, ini yang membuatnya dipanggil si manis bergigi emas, dari rumah ke rumah sampai restoran ke restoran dijalaninya demi sang buah hati. Dengan apa yang dilakukan oleh Midah, tergambar suatu hal yang sangat menyentuh, bahwa pada akhirnya anaklah alasan orang tua untuk tetap hidup dan memberi kehidupan. Tak peduli apa yang harus dihadapi, Midah terus berjalan dan mencoba menaklukkan Ibu Kota.

Pramoedya sendiri, seperti biasanya, tidak pernah alpa menyajikan kegetiran di berbagai ceritanya. Membaca “Midah: Si Manis Bergigi Emas”, menyadarkan kita bahwa hidup punya kegetirannya masing-masing. Tidak ada yang tahu bagaimana bentuk hari esok, karena Midah si manis anak orang kaya itu, pada akhirnya kalah (secara moral) dalam pertarungannya di Ibu Kota.

 

Membaca buku ini, kita akan lebih menghargai perjuangan hidup seorang perempuan yang telah bertaruh nyawa untuk melahirkan dan membesarkan kita. Perempuan itu kerap kita panggil dengan sebutan: Ibu.

[Penulis : Richard Yosafat]

Facebook
Facebook
Instagram