Hak Cipta Pelaku Musik : Terkait Hak Moral dan Ekonomi

                                    Theresia Ebenna (kiri) selaku Konsultan HKI

Jakarta, ViaductPress.com – Perkembangan zaman yang mengarah pada kemajuan teknologi telah mengubah pola perilaku masyarakat, sebagian kelompok masyarakat selaku seniman yang membuat suatu karya cipta, khususnya di bidang musik. Musik merupakan suatu hasil yang diciptakan oleh pencipta yang dinyatakan dalam sebuah bentuk nyata, bukan lagi sebuah ide saja, namun juga telah diproyeksikan menjadi sebuah karya cipta. Masalah yang sering timbul dalam hal karya cipta ialah kesewenang-wenangan seseorang dalam mengubah, mendistorsi, dan mutilasi sebuah karya cipta. Atas dasar tersebut para pelaku musik dan komunitas musik bekerjasama dalam mengadakan forum diskusi.

 

Hiburan musik yang diamainkan Ebiet G Ade Members

Forum Komunikasi Komunitas Musik Indonesia (FK2MI) menyelenggrakan Forum Diskusi Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) bersama dengan komunitas musik lain, diantaranya ada : Koes Musik Fans Club Jiwan Nusantara (KMFCJN), Ebiet G Ade Members, God Bless Community Indonesia, dan Tembang Balada Franky & Jane (TBFI). Diskusi yang diselengarakan pada hari Selasa (19/12) yang lalu bertempat di Jl.Bulungan No. 76 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan tepatnya di Plaza Blok M lantai 6. Narasumber merupakan Konsultan HKI yang mewakili Asosiasi Konsultan KHI yaitu Ibu Theresia Ebenna Ezeria.

Pelaku musik ialah seseorang yang menciptakan sebuah lagu melalui proses kreatif, proses yang demikian melalui waktu yang cukup lama. Menempatkan diri sebagai Konsultan HKI, maka dalam hal ini harus melindungi hasil pemikiran manusia yang dijadikan dalam bentuk nyata. Pemikiran manusia yang berdasarkan kebebasan berfikir juga dilindungi Hak Asasi Manusia.

Kaitannya dengan pelaku musik maka hak cipta itu sendiri lahir secara otomatis melalui prinsip deklaratif dan merupakan hak ekslusif bagi pencipta. Hak Cipta tak hanya berkaitan dengan musik saja, seperti hasi designer dan arsitek juga merupakan ranah yang dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta No.28 Tahun 2014. Hal yang paling fundamental sebagai pelaku musik harus memahami hak moral dan ekonomi dari suatu hak cipta . ”Dua hak ini harus dipatrikan dalam kepala kita dan benar-benar harus dipahami, dua hak ini menjadi intisari dari undang-undang hak cipta” tegas Theresia selaku Konsultan HKI.

Perlindungan hak cipta melekat pada pencipta selama ia hidup dan 70 tahun setelah ia wafat. Perlu diketahui hak cipta terdiri dari beberapa elemen, yaitu: hak moral dan ekonomi. “ Hak moral itu hak yang otomatis melekat, identitas dari ciptaan harus melekat pada pencipta misalnya: kita mempunyai hak atas ciptaan yang disiarkan di TV tapi tidak ada keterangan pencipta atau keterangan pencipta tapi salah nama. Kita Punya hak untuk mencantumkan nama karya ciptaan atau sebaliknya tidak ingin mencantumkan nama dan menggunakan nama samaran. Hak moral berikutnya setiap karya cipta mempunyai pengakuan yang sama supaya tidak dimutilasi, distorsi atau dimodifikasi tanpa seizin pencipta misalkan: lagu yg dibuat dengan versi lain tanpa seizin penerbit. Hak moral lebih memproteksi karyanya. Hak ekonomi hak menggandakan dan hak mengumumkan” jelas Theresia.

Hak Cipta sendiri tidak hanya mengatur tentang hak moral dan ekonomi. Diluar itu ada juga hak terkait, dimana pelaku pertunjukan, produser fonogram dan lembaga penyiaran. Dimana pelaku, produser, dan lembaga penyiaran mempunyai hak yang sama. Hak pencipta dan hak pelaku pertunjukan mempunyai hak ekomi. Didalam Undang-Undang Hak Cipta No.19 Tahun 2002 masih belum mengatur tentang hak ekonomi produser fonogram. Hak ekonomi produser fonogram baru diatur dalam Undang-Undang Hak Cipta No.28 Tahun 2014.

  [Penulis: Gema Bayu Samudra]

Facebook
Facebook
Instagram