Mau Sampai Kapan Kekerasan Hewan Terus Terjadi?

                          Sumber : Google

ViaductPress.com – Seperti yang kita ketahui hewan adalah salah satu ciptaan Tuhan Yang Maha Esa di dunia ini. Tetapi yang menjadi permasalahaannya adalah banyak manusia zaman sekarang mempunyai kesadaran yang sangat kurang untuk melindungi hewan. Banyak sekali kasus yang terdengar akhir-akhir ini mengenai kekerasan terhadap hewan dan pembiaran kekerasan oleh pihak kebun binatang yang terjadi dimana-dimana, tidak usah jauh-jauh, di tanah air sendiri, antara lain yang terjadi di kebun binatang Bandung, Jawa Barat, binatang-binatang khususnya Beruang madu dibiarkan kelaparan, mengurus dan diperlakukan tidak layak dari pengelola dan pengunjung kebun binatang Bandung.

Selain di Bandung, ada juga kebun binatang yang bertempat di Surabaya, sesuai dengan data dari ABC pada tahun 2013 bahwa ada 50 binatang yang mati dalam 3 bulan, termasuk orangutan, harimau, dan Jerapah. Pada saat itu orang-orang menjuluki kebun binatang itu “zoo of the death.” Berpindah ke pulau Sulawesi, mungkin banyak dari kalian yang sering mendengar bahwa anjing, kucing, kelelawar, ular dan binatang-binatang lainnya dijadikan makanan dan banyak masyarakat sangat menikmati dan menganggap itu hal yang sangat biasa. Memang di Indonesia melegalkan memakan daging anjing akan tetapi di beberapa kalangan masyarakat lainnya tidak menyetujui dengan memakan anjing. Banyak yang tidak sependapat atas legalnya    memakan daging anjing, karena menurut kebanyakan orang mengganggap bahwa anjing adalah sahabat manusia yang mempunyai nilai kesetiaan yang sangat tinggi.

                               Sumber : Google

Masyarakat harus mengetahui bahwa ada undang-undang yang mengatur dalam KUHP mengenai kekeresan, penganiayaan terhadap hewan, Pasal 302 KUHP. Yang dibahas dalam pasal ini, mengajak kita untuk memiliki kesadaran untuk lebih melestarikan adanya hewan, termasuk makhluk hidup yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa dalam dunia ini. Hewan seperti ayam, ikan, sapi sebagai rantai makanan umat manusia, apakah itu termasuk penganiayaan terhadap hewan? Kebanyakan manusia memilih untuk memakan ayam, ikan, sapi, dan sebagainya. Lantaran hewan-hewan tersebut layak dikonsumsi dan didalam kandungan hewan tersebut melengkapi tumbuh kembang manusia.

Menjawab pertanyaan diatas, kesadaran manusia masih sangat minim dan banyak memutuskan untuk menjadi vegetarian, hanya memakan sayur-sayuran, saking besarnya afeksi seseorang terhadap hewan. Kebanyakan orang juga memiliki kenikmatan sendiri dalam memakan daging dari hewan-hewan tersebut tanpa memikirkan apapun dan pola pikir yang seperti itu, harus dirubah demi keselamatan hewan-hewan dalam menuju kepunahan seiring berjalannya waktu. Mari kita mulai dari diri kita sendiri, dari kesadaran diri sendiri serta merubah pola pikir kita untuk melihat masa depan yang mendekati kepunahan hewan dalam 10-20 tahun kedepan, jika umat manusia masih memikirkan kekerasan terhadap hewan adalah hal yang biasa dilakukan. Pemburuhan hewan di hutan, memancing ikan di sungai sembarangan, menjadikan bulu hewan sebagai coat, dan macam-macam penganiayaan lainnya terhadap hewan. Hal-hal yang dibahas semuanya berlaku terhadap semua hewan, dalam jenis apapun.

Kebanyakan manusia berfikir bahwa hewan tidak memiliki otak, perasaan, dan kadang tidak berguna. Siapa bilang? Coba dirubah pola pikir seperti itu dan melakukan penilitian dan riset dalam bentuk apapun dan bisa didapatkan bahwa kebanyakan hewan menjadi sangat pintar bila diajarkan dan dilatih terus menerus, dan hewan juga mempunyai afeksi yang sangat besar terhadap manusia, jika manusia juga menunjukan afeksi yang besar terhadap hewan, dan tidak berniat untuk melukai hewan. Ayo kita mulai dulu dari diri sendiri untuk melakukan perubahan baru, kita kembangkan dari diri sendiri lalu bisa mengajak orang lain dalam menjaga kelangkaan hewan, sehingga eksistensi hewan-hewan bisa diselamatkan. Hewan juga ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada salahnya dihargai dan menjaganya seperti kita menjaga diri kita sendiri dan orang lain.

[Penulis: Tasya Mitakda]

Facebook
Facebook
Instagram