Setiap Manusia Berhak Hidup

                             Sumber : zubairi

Jakarta, ViaductPress.com – Indonesia adalah salah satu negara yang memberlakukan hukuman mati, di era Presiden Jokowi santer terdengar kabar yang meluas tentang hukuman mati khususnya hukuman mati tentang narkoba. Namun banyak kasus hukuman mati yang berakhir dengan ketidakadilan karena justru mendakwa orang yang tidak bersalah, otomatis mengakibatkan hak untuk hidup seseorang justru dirampas karena kekeliruan proses hukum yang terjadi.

Dalam Undang-Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia menyebutkan “Seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa, dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia”. Hak Asasi Manusia merupakan hak fundamental yang diperoleh manusia sejak lahir, dalam hukuman mati justru tidak menimbulkan efek jera dan tidak ada korelasinya dengan pengurangan tindak pidana itu sendiri.

“Saya pada dasarnya tidak sepakat pada hukuman mati dalam kasus apapun, karena menurut saya hukuman mati melanggar HAM dan merampas hak untuk hidup. Hukuman mati belum tentu memberikan efek jera, karena dalam hukum pidana yang bertujuan mempunyai efek jera agar orang tidak melakukan tindak pidana. Di negara yang menganut hukuman mati dan berjalan dengan baik, serta dimonitoring ternyata banyak ditemukan kesalahan dimana banyak orang yang tidak bersalah justru diadili dan dieksekusi, dan beberapa puluh tahun kemudian ditemukan tersangka yang sesungguhnya melakukan pelanggaran” ucap Asmin Fransiska selaku ketua LPPM Unika Atma Jaya

Hal inilah yang mendorong gerakan salah satunya di Indonesia adalah Anti Hukuman Mati, karena dengan gerakan ini berkeinginan agar hukuman mati diberhentikan dan menjadi refleksi pada penegak hukum dalam menyelesaikan kasus. “Ada dua kasus yang menarik perhatian saya yaitu kasus Jefri warga kulit hitam asal Nigeria yang dieksekusi mati dalam gelombang kedua karena kasus narkotika, sehingga kasusnya dibawa ke Ombusdman, dan ditemukan ada beberapa pelanggaran oleh penegak hukum. Kasus kedua adalah kasus Mary Jane, seorang Pembantu Rumah Tangga asal Filipina yang didalam kopernya ditemukan narkotika heroin, Mary Jane dieksekusi mati sementara yang menyuruh dia tidak pernah dieksplor atau bahkan sekadar ditanya di persidangan, padahal Mary Jane telah berkali-kali menyebut dua orang nama. Keadilan yang seperti ini yang membuat saya anti terhadap hukuman mati.” Tambah Asmin dengan serius.

Hak Asasi Manusia melekat absolut terhadap manusia itu sendiri, terlepas dari apapun kesalahan yang dibuat oleh manusia, kita semua merupakan warga negara dunia karena Hak Asasi Manusia bersifat universal dan setiap manusia mendapat hak untuk hidup semenjak ia lahir, dan yang berhak mencabut nyawa manusia bukanlah sesama manusia. Tetapi pencipta yang berhak karena ia yang memberi kita nafas kehidupan, ia jugalah yang berhak mencabut nyawa kita.

[Penulis: Wulan Nurasih Dian Putri]

Facebook
Facebook
Instagram