Tanpa Pancasila, kita bukanlah Indonesia

Sumber: wikimedia

ViaductPress.com – Permusuhan, anti-pancasila, toleransi, korupsi, kemiskinan, radikalisme, SARA dan sebagainya. Hal yang belum dapat dihapuskan di negeri ini, bagaimana tidak, sebagian orang telah terdikte oleh pandangan yang sempit. Pandangan yang tidak berinduk pada nilai Pancasila, sekian banyak orang tidak menganggap Pancasila sebagai kitab untuk dijadikan pedoman dalam kehidupannya.

Di kala pertikaian yang terjadi ditengah-tengah masyarakat tak kunjung diselesaikan, pertikaian yang disebabkan karena tidak sejalannya pendapat. Dari hari-kehari pertikaian ini menuai luka dan lama-lama semakin membekak. Masyarakat sekarang telah kehilangan arah untuk berfikir, kehilangan arah berfikir cara bertindak yang sesuai dengan nilai-nilai yang asri, yang terkandung pada Pancasila.

Pancasila memang tak sempurna, saat Pancasila adapun harus melalui proses yang begitu panjang. Sempat Pancasila pada sila pertamanya berbunyi : “Ke-Tuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Di saat itulah beberapa dari panitia yang disusun khusus merancang dasar-dasar negara, dari mereka ada yang tidak setuju, karena dianggap hanya untuk golongan tertentu saja.

72 tahun silam para pendiri bangsa merumuskan dasar negeri ini, perjuangan meraih kemerdekaan diraih bersama-sama tanpa melihat suku, ras, agama, apalagi golongan tertentu. Penerus bangsa seharusnya tidak mendebatkan lagi tentang ideologi negaranya. Bangsa ini terkuras habis energinya hanya memikirkan apa yang tidak harus dipikirkan apa-apa yang dipikir oleh para pendiri bangsa terdahulu. Begitu banyak cobaan negeri ini yang tak kunjung usai, hanya saja masalahnya itu-itu saja yang sejatinya akan menghambat kemajuan bangsa.

Jenuh memang, kalau kita selalu menyuara-nyuarakan persatuan dalam keberagaman. Tak bosan-bosan kita memberitahu negara ini indah karena berbeda. Tak ada hentinya kita mengingat anugerah yang dimiliki negara ini karena kemajemukannya. Tak ada habisnya kita menasehati orang akan kehidupan yang damai, yang didalamnya terdapat nila-nilai toleransi.

Tak pernah kita habis pikir tentang bagaimana masa depan negeri ini tanpa adanya sifat menghargai satu sama lain, tanpa adanya cercaan satu sama lain, tanpa mendiskreditkan orang lain, tanpa mengusik kehidupan orang lain. Karena sifat-sifat yang memuliakan orang lain merupakan cerminan seseorang yang merefleksikan dirinya sebagai Pancasila. Iya sebagai Pancasila!!! karena tanpa Pancasila kita bukanlah Indonesia.

[Penulis : Gema Bayu Samudra]

 

 

 

Facebook
Facebook
Instagram