Merah Tak Perlu Jadi Putih

Sumber : Masaagung

ViaductPress.com – Ada yang tak hafal Pancasila? Jika ada, pergi temui Guru pelajaran Kewarganegaraan kalian semasa sekolah dulu. Jika tak pernah sekolah, segera dapati seorang ahli Kewarganeraan untuk menjadi mentor kalian; karena ini Indonesia.

Belakangan kumpulan orang yang mengaku sebagai alumni 212 -yang entah kita tak pernah tahu letak sekolahnya dimana- menjadi isu yang membumi di Indonesia. Alumni 212 dengan paham Khilafahnya tersebut; berjuang dengan ideologi dan hukumnya yang bersumber dari Al-Quran, Hadis, Ijma, dan Qiyas.

Baru-baru ini para jagoan Alumni 212 tampil pada acara talkshow yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta Berani Beda. Diskusi yang ditampilkan menarik, dimana para jagoan Alumni 212 tersebut terlihat sekali kegandrungannya terhadap Piagam Jakarta yang merujuk kepada Hukum Islam.

Sebut saja Eggi Sudjana; berbekalkan pandangan Ki Bagus Hadi Kusomo -salah satu Tokoh BPUPKI- Eggi Sudjana menyatakan bahwa frasa Tuhan YME pada Sila Pertama dalam Pancasila, adalah bentuk representasi dari Allah SWT; sudah menjadi kewajiban Hukum di Indonesia ini mengacu pada Hukum Islam. Beruntung Mahfud MD -ahli Hukum Tata Negara- dapat meluruskan pengetahuan historis Eggi Sudjana.

Tak aneh memang, para jagoan Alumni 212 punya rasa rindu yang harus dituntaskan; dengan embel-embel kesatuan 7,5 juta umat yang membela Khilafah, mungkin semua cara akan ditempuh untuk mewujudkan amandemen atas ideologi bangsa seturut Hukum yang mereka anut.

Tak perlu heran, hanya sebagai Rakyat Indonesia yang cinta akan Pancasila; kita perlu ucapkan rasa syukur kepada Tuhan, untuk apa? Pernah bayangkan Tokoh BPUPKI diisi dengan orang-orang yang punya ego seperti para Alumni 212? Sudah pasti Indonesia dulu gagal merdeka.

Para Tokoh Islam yang menjadi bagian Persiapan Kemerdekaan Indonesia dulu tentu lebih khatam ilmu agamanya, mengapa demikian? Karena mereka mampu berjiwa besar; dalamnya ilmu agama yang mereka punya, mampu meninggalkan Piagam Jakarta demi melebur dalam Pancasila, yang memuat Persatuan atas semua kebhinekaan didaratan Bumi Pertiwi ini.

Merah tak perlu menjadi Putih, Putih pun tak perlu menjadi Merah; keduanya hanya perlu berimpit satu pada puncaknya tiang bendera di negara ini, tanpa ada bendera yang lain lagi diatasnya. Dengan aksi heroiknya, para Tokoh Insiden Hotel Yamato saja tak membiarkan warna biru berhimpitan dengan Merah Putih di Surabaya.

[Penulis: Natado Putrawan]

Facebook
Facebook
Instagram