Debitor

ViaductPress.com – Kenakalan memang sudah menjadi bagian hidup dari beberapa pria dimasa mudanya, dari rasa ingin tahu yang tinggi sampai penyesalan yang tak berakhir diujungnya. Tak mendengarkan nasihat orangtua, teman-teman dan orang-orang sekitar yang menyayanginya memang menambah penyesalan tersebut jika diingat-ingat kembali, bagi pria yang baru saja pergi meninggalkan rumah tanpa pesan. Cukup lama ia menghabiskan waktunya untuk berhura-hura tak memikirkan masa depannya.

Pergi bersenang-senang menjadi rutinitas pria lajang tersebut, tanpa memikirkan akan dampak kedepannya seperti apa. Namun penyesalan tinggallah penyesalan, kata pepatah nasi sudah menjadi bubur. Apa boleh buat, bila kuat silahkan jalani bila tidak lebih baik bunuh diri. Apa yang ia tanam dimasa lalu dan itu akan ia tuai dimasa kini, tak jarang pria ini menghibur diri dengan bernyanyi karena tak ada yang dapat mengerti apa yang ia rasakan.

Sore itu, Casimira yang terkejut karena suara teriak yang didengar berasal dari pinggir pantai, ia menoleh ke arah suara tersebut “Hanya perasaan ku saja” katanya dalam hati untuk menenangkan diri. Casimira berusaha menghilangkan pikiran negatifnya serta merta menjatuhkan dirinya ke rumput, bersandar pada sebatang pohon lebat sambil memandang ke kejauhan dan diam.  Laut dan ombak-ombak dibawah sana menyemburkan bunga air, merah silau memantulkan cahaya matahari yang akan terbenam. Laut merupakan satu – satunya pandangan sehingga mengingatkannya kembali pada suara teriakan tadi.

“Persetan suasana ini!” serunya pelan sambil terus memandang ke laut. “inilah kita, sepotong hati yang tak pernah terpuaskan!” kembali ia mendengar teriakan itu lagi.  Daun-daun pun berguguran, berputar-putar, bergetar-getar lalu jatuh ke pangkuan, bahu, dan kepala Casimira. Ia menengok ke sekitar dengan gusar kemudian berlari ke arah gubuk terpencil dan menggedor-gedor gubuk tersebut. Ternyata penghuninya seorang kakek tua tanpa teman, tanpa kebencian  dan tanpa kerisauan. Dadanya telanjang, raut wajahnya amat sederhana seperti isi gubuknya. “kkkeek bolehkah saya masuk?” dengan senyuman sang kakek mempersilahkan Casimira masuk lalu mengunci pintu.

“Wajahmu terlihat pucat, tubuhmu lemas seperti sedang memikirkan banyak masalah, dari mana kau nak? Dan siapa namamu?” ujar kakek sambil mengasah pisau. “aaku dari pinggir pantai itu kek, namaku…. namaku Casimira kek” sambil melotot melihat si kakek yang sedang mengasah pisau. “sungguh indah namamu nak, kakek paham apa yang baru kau alami. Jangan dipikirkan, suara itu biasa menghampiri pria lajang sepertimu” sambil mengiris jahe lalu mencelupkannya kedalam segelas teh hangat lalu memberikannya pada Casimira. Hari semakin larut, gelombang terdengar berduyun-duyun datang dari jauh, susul-menyusul sampai dekat dan hilang dipesisir pantai.

“apa maksud kakek? Pria lajang sepertiku?”

“hidup kita dikebiri sehingga hampir lenyap semua kemungkinan-kemungkinannya. Ambil jarak sedikit dari kegelisahan yang kita pikirkan” jawab kakek sambil tersenyum seakan tahu apa masalah yang sedang kuhadapi. Casimira hanya mengangguk dan meminum teh jahe hangat yang lumayan menenangkan ketakutannya. “jalan memang bercabang, tak tahukah kamu bahwa telah banyak perolehanmu yang hilang? Makhluk-makhluk aneh itu akan tertuntun dan bangun, lalu berjalan lewat tikungan maut dalam kepercayaan akan diri. Kelak kau akan mengerti” kembali si kakek tersenyum seakan menyampaikan sesuatu yang bisa dijadikan jalan keluar dari masalah yang sedang kuhadapi.

Setelah mendapat izin dari sang kakek, Casimira pun beristirahat dibangku rotan yang agak goyang sambil memikirkan maksut perkataan si kakek padanya. Tak lama kemudian ia pun tertidur lelap dalam pikirannya. Hari telah berganti, Casimira dibangunkan oleh sapaan sinar Matahari yang masuk lewat lubang-lubang kecil atap gubuk tua tersebut. Ia beranjak dari kursi rotan sambil memanggil si kakek untuk berterimakasih atas tempat peristirahatannya lalu berpamitan untuk melanjutkan perjalanannya yang tanpa arah. “kek… mau izin pamit kek…” Namun tak ada yang menjawab, Casimira berjalan ke dapur lalu keluar mencari si kakek. Tak menemui si kakek, ia pun masuk kembali kedalam gubuk dan menunggu si kakek pulang yang dipikirnya si kakek sedang keluar melakukan kegiatannya sehari-hari yang ia kira kakek adalah seorang nelayan.

Hari semakin siang namun si kakek tak kunjung pulang, Casimira tetap menunggu sambil meminum sisa tehnya semalam dan menulis dikertas apa yang ia rasakan. Hari menjelang sore si kakek pun tak juga datang. Rasa curiga Casimira mulai muncul, kemanakah si kakek pergi. Ia keluar lalu berteriak memanggil si kakek sambil menyusuri sekeliling gubuk tersebut. Tak ada sahutan. Yang terdengar hanyalah tarikan napas yang panjang dari hidungnya, “kemana sih kakek tua ini” keluhnya sambil berpikir bahwa ia harus menumpang untuk satu hari lagi karena hari yang semakin gelap.

Casimira masuk dan melanjutkan menulis diselembar kertas, dan tak terasa tumpukan kertas yang ia tulis entah apa isinya. Mulai dari tulisan, gambar-gambar tak jelas, sampai coretan yang mungkin hanya ia sendiri yang mengerti artinya. Rasa bosan menyelimuti dirinya, ia pun berjalan  melihat-lihat isi gubuk tua milik si kakek tersebut. Mulai dari mengambil pernak – pernik diatas meja sampai membuka laci meja si kakek tersebut.

Ia menemukan sebuah cermin tua yang berdebu, lalu ia bersihkan dan ia berkaca. Sungguh tak dapat ia percaya, ketika ia berkaca ternyata ialah si kakek yang dinantikan kepulangannya tersebut. Mulut yang menganga sambil mengamati jengkal demi jengkal tubuhnya yang mulai keriput dimakan waktu. Ternyata benar ialah si kakek tersebut, akhirnya ia sadar dan tak kuat menahan perasaan aneh yang ia rasakan.

Bergetar tangannya memegang cermin dan terus berkaca, bertanya-tanya apa yang sesungguhnya terjadi. Ternyata ia tak menyadari telah bertahun-tahun tergerus dalam penyesalannya yang membuat ia hilang kesadaran akan siapa dia sebenarnya. Setelah rasa ikhlas tersirat dihatinya ia pun berkata didepan cermin tersebut “Tuhan ambillah dia seutuhnya, hapuslah luka yang dibuatnya karena aku sudah tak sanggup melihat ia sengsara”.

[ Penulis : Blasius Simbolon]

Facebook
Facebook
Instagram