KENALI BAHAYA, LINDUNGI ANAK!

Gambar 1: Dari kiri ke kanan: Dian Pratidina (Ketua GASUH FH), Pak Nugroho Adi (Akademisi FH Atma Jaya), Nickolas Sinaga (Ketua Acara Seminar), Bu Retno Listyarti (Komisioner KPAI), dan bu Feronica (Akademisi FH Atma Jaya).

Jakarta, ViaductPress.com – Adik kecil kamu suka selfie di rumah terus upload di Facebook? Lucu ya! Eh, tapi bahaya nggak sih kalo dia keterusan main sosmed?  “Bullying disebabkan karena anak-anak suka menampilkan identitas mereka (jenis kelamin, alamat, dll.). Anak-anak suka menampilkan apa adanya di media sosial.” ujar bu Feronica, S.H.,M.H., salah satu dosen di Fakultas Hukum Atma Jaya dalam seminar ‘Anak, Teknologi, dan Media Sosial’ persembahan dari Gerakan Anak Asuh (GASUH) Fakultas Hukum. Seminar ini diadakan hari Kamis lalu pada tanggal 16 November 2017  bertempat di salah satu ruang seminar di gedung Yustinus lantai 14 kampus Unika Atma Jaya Semanggi, Jakarta. Acara dimulai pukul 09.00 WIB hingga 12.00 WIB.

Selama 3 jam, fakta-fakta, kasus serta cara mencegah bahaya kecanduan media sosial bagi anak disajikan menarik. Seminar ini dimoderatori oleh pak Nugroho Adi yang merupakan salah satu dosen di FH Atma Jaya. Selain menghadirkan bu Feronica dari FH Atma Jaya, seminar ini juga menghadirkan komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bu Retno Lisyarti, M.Si. Saat terlebih dahulu bu Feronica membawakan materi, ada satu fakta mencengangkan bahwa berdasarkan hasil survey, 1 dari 4 remaja menerima perlakuan kejam di dunia online tahun 2015. Survey yang dilakukan pada anak umur 13-18 tahun itu menyatakan bahwa 24% dari mereka menjadi target bullying karena orientasi seksual, ras dan agama. “Anak kerap kali terlambat disembunyikan identitasnya sehingga bisa menjadi korban kekerasan di dunia maya.”

Pemaparan materi dari bu Retno selaku koisioner KPAI yang sudah lama malang melintang dalam menangani kasus-kasus anak di Indonesia menumbuhkan rasa prihatin bagi peserta seminar. Seperti ketika ada laporan ke KPAI dari seorang nenek mengenai kondisi cucunya yang kecanduan gadget sehingga anak ini tidak bisa bergaul dan perbendaharaan katanya sangat minim saat ia berbicara. Akibatnya, anak itu harus diterapi. Menurut bu retno, ini juga harus menjadi peringatan bagi orang tua agar tidak memperkenalkan gadget pada usia dini anak.

Pacaran bukan suatu hal yang asing lagi bahkan di kalangan anak-anak masa kini. Bu Retno menceritakan bahwa pernah ada laporan seorang anak perempuan berkenalan dengan laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya lewat Facebook lalu berpacaran. Laki-laki tersebut menggunakan foto profil palsu dan mengaku sebagai mahasiswa jurusan Kedokteran. Suatu ketika, anak perempuan ini mengeluhkan menstruasinya. Maka ia menanyakannya pada ‘pacarnya’ tersebut lewat chatting. Akhirnya, laki-laki ini justru meminta anak perempuan itu untuk mengirim foto bagian intimnya dengan alasan ingin melihat penyakitnya. Alhasil, anak perempuan itu mau-mau saja. Setelah ditelusuri, laki-laki ini adalah anggota dari jaringan pedofil internasional yang sering mencari korban berupa anak-anak kecil lewat media sosial. Bu Retno sempat mengatakan bahwa salah satu penyebab anak menjadi incaran pengidap pedofil adalah karena kerap orang tua mem-posting foto anaknya yang telanjang saat mandi.

Mendidik anak dengan cara melakukan kekerasan verbal bukanlah pilihan. Bu Retno menceritakan bahwa ia kerap bertengkar di mall dengan orang tua yang membentak anaknya di mall. “Saya berpikir bahwa mereka bisa melakukan ini di tempat umum, apalagi di rumah ? Jadi, saya tunjukin undang-undangnya (Undang-Undang Perlindungan Anak) bahwa kekerasan terhadap anak dapat dipidana penjara paling lama lima tahun. Apalagi jika pelakunya adalah orang terdekat, hukumannya bisa ditambah sepertiga. Saya harus memberitahu hal ini kepada orang tua yang saya tegur meskipun biasanya mereka tidak terima.”

Pornografi telah menjadi favorit sebagian orang tanpa mengenal umur. Bu Retno memaparkan bahwa 90% anak terpapar pornografi saat berusia 11 tahun. Bagaimana tidak ? Berdasarkan hasil surveynya, 249.602 internet protokol di Indonesia memuat pornografi anak lewat media sosial. Tidak heran jika 1.022 anak di Indonesia telah menjadi korban pornografi online sepanjang tahun 2011-2014. Menurutnya, ciri anak yang kecanduan pornografi adalah dia senang menyendiri, mudah marah dan tersinggung karena takut rahasianya terbongkar, serta mudah gugup, pikiran kacau, bahkan kerusakan pada otak besarnya. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan peran orang tua dengan cara mengalihkan perhatian anak dari pornografi dengan kegiatan positif yang dapat mengembangkan potensinya.

Orang tua juga harus tahu kondisi dan nyaman atau tidak perasaan anaknya di lingkungan sekolah. Menurut bu Retno, contohnya adalah dengan mengajak teman-teman bermain ke rumah sehingga orang tua lebih kenal dekat dengan teman-teman anaknya. Selesai seminar dibawakan oleh moderator dan pembicara, sesi tanya jawab dibuka. Terlihat keingintahuan para peserta semakin besar di sesi ini. Seusai acara, beberapa anggota GASUH langsung maju ke depan ruang seminar  membawakan live music selagi peserta seminar menikmati makan siang.

Gambar 2: Beberapa anggota GASUH FH sedang tampil dalam acara live music yang dibawakan secara akustik seusai seminar.

Nickolas Sinaga mahasiswa FH angkatan 2015 berambut gondrong yang tergabung dalam GASUH FH ini menjelaskan bahwa GASUH pernah mengadakan seminar terakhir kali pada tahun 2006. Akhirnya, terbersit ide mewujudkan sebuah seminar lagi tahun ini. Ia mengakui bahwa persiapannya cukup mendadak yakni hanya 3 bulan terhitung dari Oktober lalu. Terdapat pula satu hal di luar ekspektasi. Awalnya panitia sepakat mengundang ketua KPAI. Namun, 2 minggu sebelum acara, terdapat konfirmasi bahwa ketua KPAI berhalangan hadir sehingga diwakili oleh komisionernya yaitu ibu Retno Listyarti.

“Kesan gue sih acara ini berjalan baik, bagus, sesuai rencana dan lancar. Harapan gue orang tua, mahasiswa dan masyarakat sadar bahwa kondisi anak zaman sekarang memprihatinkan. Maka dengan terselenggaranya seminar ini, semoga kita bisa menyadarkan anak-anak bersama orang tua agar anak bisa menggunakan media sosial pada jalurnya. Semoga orang tua juga tahu bagaimana tips mengawasi anak menggunakan media sosialnya. Gue juga berharap supaya kasus-kasus yang pernah menimpa atau melibatkan anak-anak nggak terjadi lagi mengingat anak adalah generasi penerus bangsa sehingga mereka harus dikontrol dalam menggunakan media sosial.” ujar pria yang akrab disapa Nicko ini.

[ Penulis : Vazza Muyassir]

Facebook
Facebook
Instagram