Gara-Gara Gawai Anak Terbengkalai

 

Sumber : ojpenyiaran6

Jakarta, ViaductPress.com – Pada mulanya gawai (gadget) hanya diperuntukkan sebatas pemakaiannya sebagai alat komunikasi yang sederhana, seperti yang kita ketahui hanya sebatas mengirim pesan dan menelepon. Zaman yang dinamis menuntut manusia mengikuti dan menyelaraskan dengan perubahan teknologi yang ada, tidak bisa dihindari lagi fungsi gawai sangatlah membantu manusia dalam berkomunikasi. Mobilitas manusia yang dimanjakan dengan teknologi tidak dapat dipisahkan karena era sekarang manusia ingin mempunyai kehidupan yang efektif dan efisien. Didalam kehidupan sehari-hari gawai tak hanya digunakan oleh orang dewasa melainkan juga anak-anak turut andil tanpa pengawasan dari orang tua.

Sebelum lebih jauh lagi, apa sih definisi anak menurut undang-undang? Menurut UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 1 Angka 1 : “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.” Definisi anak terdapat pada ketentuan-ketentuan lain namun secara garis besar undang-undang menyebutkan bahwa anak ialah belum berusia 18 ( delapan belas) tahun. Ketentuan mengenai anak diatur khusus seperti UU Pengadilan Anak, UU Kesejahteraan Anak, Konvensi Hak-hak Anak dan Hak Asasi Manusia (HAM). Undang-undang juga memperhatikan perlindungan anak sebagai pelaku, korban dan saksi.

Kaitannya anak dengan gawai memang tidak menutupi kemungkinan memiliki banyak hal yang positif namun para orang tua tak boleh lengah karena mereka yang masih anak-anak apalagi mereka dapat sebebasnya mengarungi dunia daring tanpa batas. Apakah boleh para orangtua memberikan gawai kepada anaknya? Tentu saja boleh, namun perlu diketahui berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh oleh American Academy of Pediatric pada 2016. Bahwa dalam penelitian tersebut anak yang berusia 2-5 tahun dalam penggunaan gawai sekaligus menonton televisi haruslah dibatasi oleh waktu sekiranya dalam 1 hari hanya 1-2 jam saja. Dampak yang ditimbulkan dapat mengurangi konsentrasi belajar dan dampak terhadap kesehatan.

Sumber : ZistBoon

Penggunaan secara berlebihan dapat menurunkan prestasi belajar anak, karena dalam produktivitas belajar terpecah, karena otak yang dipaksa untuk melakukan dua pekerjaan sekaligus. Tak hanya menurunkan prestasi belajar namun juga berdampak buruk kepada kesehatan, menurut WHO ( World Health Organization) kalangan remaja dimungkinkan lebih besar terkena kanker otak ketimbang orang tua karena para remaja sering kontak langsung dengan gawai sehingga radiasi yang ditimbulkan berdampak buruk kepada kesehatan. Radiasi yang dipancarkan dapat mengganggu penglihatan, khususnya mata jarang berkedip yang mengakibatkan mata kering atau yang bisa disebut juga dengan CVS ( Computer Vision Syndorome) dan mata yang sering tidak fokus atau kabur ( Blurry Vision) dikarenakan otot mata yang tegang.

Kebiasaan anak yang tidak dibatasi dapat menimbulkan kecanduan internet khususnya media sosial. Kecanduan di internet dapat disamakan dengan kecanduan pada narkotika adanya zat aditif  pada pengguna, kecanduan ini bisa dilihat bila sang anak atau seseorang tidak bisa lepas dengan gawai hanya sebatas 5 menit saja, kecanduan ini disebut dengan nomophobia. Penelitian yang dilakukan tim Rutgers University bahwa penyembuhan orang yang sudah kecanduan internet sama halnya dalam penanganannya untuk direhabilitasi seperti pacandu narkoba.

Kecanduan internet akan lebih berbahaya apabila terkena kepada anak-anak, adapun media sosial yang notabene sering diakses oleh orang-orang seperti facebook, twitter dan whatsapp memberlakukan batasan umur minimal. Jadi anak-anak tidak diperkenankan mempergunakan media sosial karena konten ataupun media sosial tersebut terdapat banyak sekali isinya yang tidak sesuai fakta, banyaknya cyber crime, bullying, dan mengandung unsur pornografi. Dan hal yang perlu diperhatikan bahwa anak-anak sangat rentan terhadap pornografi.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, mengatakan adanya aktivitas pornografi anak yang diunduh 25.000 setiap harinya dan kejahatan di media sosial, tak hanya itu 90% anak terpapar pornografi internet saat berusia 11 tahun dan 299.602 internet protokol Indonesia memuat konten pornografi anak melalui media sosial. Melihat fakta tersebut begitu prihatin apabila para orang tua tidak memberikan pengawasan penuh terhadap penggunaan gawai. Kasih sayang, memberi pendidikan seks sesuai tumbuh kembang anak dan memberikan perhatian penuh kepada anak merupakan hal yang paling utama dalam mendorong anak menjadi pribadi yang lebih baik.

[Penulis : Gema Bayu Samudra]

 

Facebook
Facebook
Instagram