Barisan Penolak Lupa

Masa Aksi melakukan aksi turun ke jalan, depan Gedung Istana Merdeka

Jakarta, ViaductPress.com – Pernah dengar kasus yang sering disebut Tragedi Semanggi, gak? Kasus yang khas dengan masa aksi yang sebagian besar memakai jaket almamater itu loh.  Kalau kamu gatau, coba deh kamu baca lagi buku sejarah SMA kamu. Tragedi Semanggi terjadi didasarkan atas aksi protes mahasiswa beserta masyarakat terhadap pelaksanaan Sidang Istimewa MPR. Kejadian ini berlangsung dua kali yang terdiri dari Tragedi Semanggi I (11-13 November 1998) dan Tragedi Semanggi II (24 September 1999). Bernardus Realino Norma Irmawan atau yang akrab dengan sapaan Wawan, Mahasiswa Fakultas Ekonomi UNIKA Atma Jaya (UAJ), adalah salah satu korban pada Tragedi Semanggi I. Sangat miris, bukan?

Tempat kejadian penembakan terhadap Alm. Wawan

      Konon ceritanya, kala itu Wawan ingin menolong temannya yang terluka di parkiran. Tetapi naas, ternyata itulah kebaikan terakhir yang dilakukan Wawan. Pada hari itu ia ditembak dan menghembuskan nafas terakhirnya di tempat. Dapat dikatakan, berawal dari kematian Wawan yang sangat mengharukan ini, masyarakat UAJ akhirnya melakukan aksi yang lebih besar lagi yaitu dengan langsung turun ke jalan.

      Tak terasa ternyata kejadian tersebut telah terjadi 19 tahun yang lalu. Hingga hari ini, tak ada satupun yang tau secara pasti siapa dalang dari kasus tersebut. Untuk mengenang para korban, tahun ini Mahasiswa Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi Bisnis, dan Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis dan Komunikasi pun mengadakan acara peringatan Tragedi Semanggi I yang diselenggarakan pada tanggal 8-13 November 2017. Acara ini terdiri dari beberapa rangkaian, yang dimulai dari tanggal 8-13 November (kecuali tanggal 11 November) dengan adanya pameran foto kejadian Tragedi Semanggi I di Hall KW, Hall G, dan di dekat ruang Multimedia Teknik UNIKA Atma Jaya. Pada 9 November hanya ada pameran foto, namun pada sore harinya ada ajakan dari para penyelenggara acara untuk mengikuti Aksi Kamisan.

Jumat, 10 November 2017 diadakan screening film documenter dan diskusi film dengan beberapa pembicara yang terdiri dari Koordinator Lapangan Front Aksi Mahasiswa Semanggi, Garry Eben, Aquino Alumnus alumni Fakultas Fiabikom yang juga seorang saksi ‘98, dan Pak Arief, bapak dari Alm. Wawan. Dalam rangkaian acara ini, dihadiri oleh cukup banyak mahasiswa, baik dari mahasiswa hukum maupun mahasiswa ekonomi. Pada rangkaian acara ini, tidak lupa untuk selalu dihiasi dengan pameran foto sebagai salah satu bentuk anti menolak lupa. “Lawan lupa, ingat jati diri, ingat sejarah, lalu melalui sejarah berpikir secara kritis dengan hati yang bersih, dengan pikiran yang jernih untuk bagaimana membuat masa depan bangsa dan negara ini lebih baik” papar dr. Tommy, Wakil Rektor III UNIKA Atma Jaya.

Pada akhir pekan, tidak lupa para perwakilan dari senat Fakultas Hukum melakukan penyekaran di makam Alm. Wawan bersama dengan kedua orang tua. Di hari minggu, diadakan pameran foto yang berdomisili di depan Kampus UNIKA Atma Jaya, sebagai salah satu bentuk dari rangkaian acara, untuk kembali mengingatkan masyarakat yang lebih luas mengenai kasus Tragedi Semanggi I. Rangkaian acara ini terdiri dari pameran foto serta pembagian selisip dan bunga mawar sebagai pemanis.

Tidak berhenti sampai akhir pekan saja, tepat pada tanggal 13 November, kasus Tragedi Semanggi kembali bertambah umur. Pada hari senin, rangkaian acara pun sudah dimulai dari pagi dan sangat beragam. Dimulai dari pameran foto yang terletak di Hall G UAJ dan seminar yang bekerjasama dengan UKM Fodim sebagai salah satu bentuk untuk mengenang Wawan yang pernah terlibat di dalamnya. Seminar tersebut dihadiri oleh beberapa pembicara yang terdiri dari Usman Hamid perwakilan dari Amnesty International, Beka Ulung Hapsara perwakilan dari Komnas HAM, dan Asmin Fransiska dari pihak akademisi.

Kondisi Diskusi Melawan Lupa

Dilanjutkan dengan tabur bunga  yang diadakan di tempat tepat dimana Wawan tertembak, dilanjutkan dengan konferensi pers, “Konferensi pers dihadiri oleh Bu Sumarsih, Warek III yaitu Dr. Tommy, Bu Asmin Dosen Fakultas Hukum, dan saksi kejadian ’98, Bang Aquino. Terus ada pertunjukkan seni dari Band Marjinal, Teater Pagupon Fakultas Ilmu dan Budaya Universitas Indonesia (UI). Terus aksi damai turun ke jalan, ke depan istana, dan ada aksi teatrikal pelepasan 19 balon.” jelas Garry Eben.

Situasi Konferensi Pers di Parkiran UNIKA Atma Jaya

 

 

 

 

 

 

 

Penampilan Apresiasi Seni (Kiri: Band Marjinal, Kanan: Teatrikal dari Teater Pagupon Fakultas Ilmu dan Budaya Universitas Indonesia)

 

 

Teatrikal: Pelepasan 19 balon oleh para masa aksi

Awan gelap yang menyelimuti hari hingga turunnya hujan, menjadi saksi bisu besarnya perjuangan para mahasiswa untuk menuntut pemerintah mengusut tuntas kasus HAM berat ini. Orasi dari para mahasiswa terus berlanjut di depan Gedung Istana Merdeka meskipun hari kurang bersahabat. Teriakan, ajakan, maupun aspirasi yang beragam diucapkan dengan lantang dari para masa aksi di sore itu. “Kebenaran tidak mungkin turun dari langit, tapi kebenaran harus kita jemput adanya.” ujar Mike, vokalis band Marjinal. Maka, untuk menjemput keadilan itu sendiri, akan selalu diadakan peringatan aksi Tragedi Semanggi ini sampai kasusnya benar-benar terselesaikan seutuhnya.

Masa Aksi melakukan orasi di depan Gedung Istana Presiden

 

Bukan waktu yang sebentar, sudah 19 tahun berjalan dan hingga kini tak ada kejelasan yang berarti untuk para keluarga korban. Ibu Sumarsih, orang tua Alm. Wawan pun tak pernah absen untuk turut andil setiap aksi. “Sebagai mahasiswa, aksi ini harus tetap berlanjut karena disini yang dituntut adalah kejelasan dari kasus Tragedi Semanggi 1 yang selama 19 tahun belom ada penyelesaiannya” ucap Leonhard Juliano Sapugelu, Mahasiswa Fakultas Hukum. Ditambah dengan pesan dari Garry, untuk teman-teman mahasiswa sebagai sesama mahasiswa, “Jangan lupakan tugas-tugas yang seharusnya itu buat mahasiswa. Gak cuma belajar, tapi sebagai mahasiswa dimana kita sebagai maha dari segala siswa punya tanggung jawab lain tentang permasalahan sosial, permasalahan hukum, apalagi kita fakultas hukum. Jangan pernah lupain sih idealisme kita sebagai mahasiswa.”

[Penulis: Florencia Melati Kusuma dan Carolina Yosephine Lamablawa]

 

 

 

Facebook
Facebook
Instagram