Polisi Membubarkan Aksi Kamisan Perdana di 2016

Jakarta, ViaductPress.com – Setiap Kamis pukul 16.00 adalah harinya para keluarga korban pelanggaran HAM, mahasiswa, dan simpatisan berkumpul menggelar aksi rutin yang dinamakan Aksi Kamisan. Bersenjatakan diam dan payung hitam, mereka melawan lupa dan menuntut penuntasan kasus pelanggaran HAM di Indonesia yang tak kunjung usai.

Kamis kemarin (7/1/2016), merupakan Aksi Kamisan pertama pasca tahun baru sekaligus Aksi Kamisan ke-425 kalinya. Aksi yang biasanya dilakukan di depan Istana Merdeka sejak tahun 2007, kali ini mendapat pengusiran dari aparat kepolisian yang sudah berjaga sejak siang hari di kawasan tersebut.

Kronologis

Pukul 16.00 WIB: Sumarsih, ibunda alm. Wawan mahasiswa Atma Jaya yang tewas pada 1998 terlihat sempat adu argumen dengan kepolisian ketika ia berusaha tetap berdiri di depan Istana Merdeka. Adu argumen terlihat cukup alot hingga kurang lebih setengah jam. Reporter kami sempat ingin meliput keadaan tapi dihalang-halangi oleh pihak Kepolisian hingga akhirnya Wakapolsek Gambir M. Nababan WTP mengizinkan kami meliput keadaan. “Saya akan tetap berdiri disini” kekeuh ibu berkacamata ini.

Pukul 16.45 WIB: Negosiasi yang dilakukan pihak Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) dengan Kepolisian berbuah hasil. Para peserta aksi diberikan izin menggelar refleksi dan doa di depan Istana Merdeka.

Pukul 17.10 WIB: Para peserta aksi membubarkan diri.

Janji Jokowi

Sejak ketentuan mengenai batas lokasi penyampaian pendapat di muka umum yang termaktub dalam ketentuan pasal 9 UU No 9 Tahun 1998 kembali mencuat di permukaan beberapa bulan yang lalu, para pejuang keadilan memang selalu kesulitan ketika ingin menyerukan suaranya di depan Istana Merdeka.

Keluarga korban mempertanyakan komitmen Jokowi dengan janji-janjinya menuntaskan kasus pelanggaran HAM masa lalu, serta berikrar tidak akan berhenti mengisi lokasi Kamisan sampai seluruh kasus pelanggaran HAM dituntaskan.

“Saya minta jangan lakukan kekerasan kepada kami. Sampai janji Jokowi terwujud, kami akan tetap berdiri disini. Kami tidak mau digeser karena tidak akan menyelesaikan masalah! Mosok bahaya kami daripada mobil-mobil yang lewat?” ucap Sumarsih dalam refleksi tersebut.

[Penulis : Bossga Hutagalung]

 

Facebook
Facebook
Instagram