Menguak Sisi Lain Hamdan Zoelva

Hamdan Zoelva

ViaductPress.com – Siapa yang tak kenal Mantan Ketua MK yang satu ini? Pria kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat, 21 Juni 1962 tersebut menjadi sosok sentral yang tentu masih terekam jelas diingatan kita bagaimana tangan dingin kepemimpinannya dalam memimpin jalannya sidang sengketa Pemilu Presiden 2014. Sosoknya yang terkenal berkharisma ini bahkan sampai-sampai membuat ‘panas’ mata kaum ibu Indonesia hingga banyak yang menjulukinya “Bapak Hakim Ganteng”. Ya, dialah Hamdan Zoelva, S.H., M.H. atau yang akrab dikenal dengan nama Hamdan Zoelva.

Masa Remaja

Ketua Mahkamah Konstitusi periode 2013-2015 ini rupanya sudah akrab dengan yang namanya kegiatan organisasi sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas dan di dunia kampus. “Saya sudah menjadi sekretaris OSIS dan (mengikuti) Pramuka ketika SMA. Saya juga pernah membuat buletin sekolah ketika di SMA. Sedangkan di perguruan tinggi, saya membentuk kelompok belajar dan membuat buletin juga di fakultas,” ujar suami dari R.A. Nina Damayanti, S.H. ini kepada Viaduct.

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin tersebut rupanya lebih aktif di organisasi luar kampus ketimbang dalam kampus. Tercatat ia merupakan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) pada tahun 1981-1987. “Sejak semester dua sampai selesai saya aktif terus. Dari mengikuti training, menjadi pengurus organisasi, sampai saya jadi Ketua Badan Koordinasi HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) bagian Indonesia Timur. Penuhlah pengalaman organisasi saya sebagai mahasiswa.” ungkapnya dengan bangga ketika ingatannya kembali ke memori masa mudanya.

Sang Hakim Konstitusi yang Sempat Diragukan

Hamdan Zoelva berfoto bersama mahasiswa Atma Jaya

Semakin tinggi kesuksesan seseorang, tentu diikuti dengan berbagai macam cibiran dan omongan dari orang lain mengenai dirinya. Hal inilah yang pernah dialami Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini saat dirinya menjabat. Hamdan Zoelva diangkat menjadi ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia menggantikan Akil Mochtar, yang diberhentikan pada 5 Oktober 2013 karena terlibat dalam kasus suap sengketa pemilihan kepala daerah, gratifikasi, serta pencucian uang.

Pada awalnya, banyak kalangan yang meragukan integritas Hamdan Zoelva sebagai Ketua MK. Itu karena sebelumnya ia pernah terlibat aktif di dunia politik, tepatnya menjadi Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Bulan Bintang periode 2005 – 2010. “Banyak orang ragu, itu betul. Tapi saya hanya membuat komitmen saja pada diri saya pada saat pelantikan. (Pertama) Bahwa saya pada saat mengurusi perkara, (saya) tidak memandang (apakah orang yang diadili mempunyai hubungan) keluarga, organisasi, kerabat, dll. Tetapi (saya) hanya melihat dari perkaranya saja. Kedua, saya ingin membuktikan saja (omongan orang-orang yang meragukan dirinya). Kawan saya saja saya kalahkan (di pengadilan). Jadi kalau perkaranya menang ya menang walau kawan. Tapi kalau orang yang tidak saya kenal itu pun benar, ya saya menangkan,” ujarnya.

“Bagi saya yang paling penting adalah objektifitas dan integritas” – Hamdan Zoelva

Benci Bunyi Nguing-nguing dan Cerita Pasca Demisioner

Menjelang akhir wawancara kami dengan Hamdan Zoelva, kami bertanya bagaimana suka dan duka menjadi Ketua MK. Hamdan bercerita, satu hal yang sebenarnya tidak disukai oleh Hamdan ketika menjabat sebagai Ketua MK adalah bunyi nguing-nguing alias bunyi sirene dari pengawal ketika dirinya berpergian kesana kemari. “Waduh.. Kalau sukanya itu ya kita diperlakukan istimewa, kemana mana diperlakukan khusus, dijaga, nguing-nguing. Haha.. Meskipun saya tidak terlalu suka. Karena dulu pada waktu saya orang biasa, saya kesal dengan pejabat yang suka geser-geser orang pas jalan. Makanya saya gasuka dibunyikan sirene pas jalan,” ujarnya.

Hamdan Zoelva (dua dari kiri) berfoto bersama redaksi Viaduct

Kisah Hamdan dan MK rupanya tak berlangsung lama. Ia kecewa ketika ada regulasi yang mengharuskan setiap hakim MK harus menjalani seleksi calon Hakim MK lagi untuk memperpanjang masa baktinya. Ia merasa seharusnya seorang Ketua MK yang masih aktif tidak perlu melewati proses seleksi ulang, melainkan melihat catatan rekam jejak saja. “Saya pada saat itu masih jadi Ketua MK. Seleksi itu adalah seleksi untuk mengetahui kemampuan, kapabilitas dan integritas seseorang. Tinggal dilihat saja kapasitas dan kapabilitas saya. Kenapa harus ditanya lagi? Kan tidak elok ketua MK harus ditanya tanya lagi. Silahkan saja kalau mau diperpanjang, tinggal perpanjang. Kalau tidak ya tidak apa- apa. Tapi kan tidak elok ketua MK harus menjalani fit and propper test lagi” ujar sosok yang mengaggumi gaya komunikasi Bung Karno ini.

Setelah demisioner, sang putra dari Bima ini kembali melanjutkan karier yang sudah 30 tahun digelutinya; kantor konsultan hukum. Selain itu, ia juga aktif memberi kuliah di berbagai universitas. Diantaranya Universitas Hassanudin, Universitas Jayabaya, dan Muhammadiyah, serta di beberapa perguruan tinggi lain, termasuk memberi kuliah umum dan seminar kepada mahasiswa.

Prinsip Hidup dan Pesan untuk Mahasiswa

“Saya menjalani hidup seperti air. Apa yang dihadapi akan dikerjakan maksimal. Apa yang diamanatkan akan saya selesaikan dengan sebaik-baiknya. Sebab, kepuasan yang dihasilkan itu luar biasa” ungkap pemilik akun twitter @hamdanzoelva saat menceritakan apa prinsip yang mendasari perjalanan hidupnya sehari-hari.

Ia berpesan kepada mahasiswa untuk selalu belajar dan tak lupa untuk aktif dalam berorganisasi. Sebab itulah kunci kesuksesan seseorang. “Satu, belajar. Itu yang paling penting! Membaca. Baca apa saja! Itu modal kalian kemanapun. Yang kedua, aktiflah di organisasi dan bergaul. Karena teman itu yang akan menolong anda pada suatu saat nanti. Jadi, banyak teman dan melihat teman. Sebab, ada yang bikin rusak, dan ada yang bawa kebaikan. Yang rusak justru kita bawa dalam kebaikan” tutupnya.

[Penulis : Bossga Hutagalung dan Richard Yosafat]

Facebook
Facebook
Instagram