Kilas Balik 60 Tahun Konferensi Asia Afrika

 

ViaductPress.com – Beberapa hari ini jalanan utama ibukota terasa sepi dari bisingnya suara kendaraan dan pengapnya bau asap knalpot bus-bus kota. Yang ada hanyalah bunyi derap langkah kaki masyarakat yang terus melangkah melewati tingginya gedung-gedung pencakar langit di kawasan Jl. Sudirman dan Gatot Subroto. Tetesan keringat ditambah panasnya terik matahari tak pelak harus mereka terima. Sambil menyeka keringat, tiba-tiba mereka menghentikan langkahnya sejenak. Sebab, rombongan mobil berbendera negara-negara sahabat dengan suara sirene melaju kencang menuju Jakarta Convention Centre di Senayan, tempat dilaksanakannya Konferensi Asia Afrika 2015.

Pada tanggal 19-23 April 2015 ini Jakarta disibukkan dengan kedatangan delegasi negara yang tergabung dalam Konferensi Asia Afrika (KAA). Berbagai persiapan, termasuk penutupan jalan-jalan utama ibukota telah dilaksanakan untuk mendukung kesuksesan kegiatan yang telah berlangsung selama 60 tahun ini. Acara yang dihadiri oleh sekitar 77 negara ini akan dilangsungkan di Jakarta dan dilanjutkan di Bandung pada tanggal 24 April 2015. Rangkaian acara juga telah disusun. Salah satu diantaranya adalah pertemuan kepala negara yang akan membahas kerjasama antara negara di Asia dan Afrika untuk meningkatkan kesejahteraan dan perdamaian dunia.

Atas Dasar Pengalaman yang Sama

Tidak banyak masyarakat tahu apa itu KAA serta apa hal yang menjadi latar belakang terjadinya kerjasama antar negara-negara di benua Asia dan Afrika. Hampir sebagian besar negara di Asia dan Afrika adalah negara jajahan yang menderita karena penindasan oleh penjajah. Berangkat dari pengalaman yang sama dibentuklah sebuah konferensi negara-negara di Asia dan Afrika yang tergabung dalam KAA.

AACC 2015, Bandung – Para kepala negara dan kepala pemerintahan beserta pemimpin delegasi negara-negara Asia Afrika berfoto bersama pada acara Peringatan ke-60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Gedung Merdeka, Bandung, Jawa Barat, Jumat (24/4). ANTARA FOTO/AACC2015/M Agung Rajasa/15.

Setelah Perang Dunia II berakhir, muncul dua kekuatan besar yang menguasai dunia. Mereka yang disebut Blok Barat dan Blok Timur saling sikut untuk memperlebar jaringan kekuasaannya di wilayah Asia dan Afrika. Blok Barat atau yang biasa disebut Blok Kapitalis (Liberal) dipelopori oleh Amerika Serikat, sedangkan Blok Timur atau Blok Sosialis (Komunis) dipelopori oleh Uni Soviet. Negara-negara di kawasan Asia dan Afrika tidak ingin berpihak pada blok manapun, mereka mempunyai semangat untuk tetap netral. Oleh sebab itu, dibentuklah KAA sebagai tanda bahwa negara-negara tersebut tidak memihak dan berupaya untuk menciptakan perdamaian di dunia ini.

Indonesia menjadi salah satu pelopor lahirnya KAA. Pemikiran untuk melahirkan KAA datang pertama kali dari Perdana Menteri Ali Sastroamidjojo pada tanggal 23 Agustus 1953. Ide ini dibahas dalam Konferensi Kolombo atau dikenal juga dengan Konferensi Pancanegara I yang berjalan dari tanggal 25 April – 2 Mei 1954 di Sri Lanka. Konferensi ini dihadiri oleh lima negara yaitu Indonesia, Sri Lanka, Pakistan, India dan Myanmar (dulu bernama Burma). Dalam konferensi inilah disahkan Konferensi Asia Afrika (KAA). Konferensi Pancanegara berikutnya adalah Konferensi Bogor yang dilaksanakan dari tanggal 22-29 Desember 1954. Konferensi ini dihadiri oleh negara-negara peserta Konferensi Pancanegara I dan membahas lebih rinci mengenai KAA. Hasil keputusan konferensi ini menetapkan KAA yang akan dilaksanakan tanggal 18-24 April 1955 di Bandung, Indonesia serta negara-negara yang akan diundang pada KAA.

Konferensi Asia Afrika yang diadakan di Bandung dihadiri oleh 29 negara yang berada di Asia dan Afrika. Pembahasan yang dibawakan dalam konferensi yang berlangsung selama seminggu tersebut adalah tentang membangun kerjasama ekonomi dan kebudayaan serta masalah kolonialisme dan perdamaian dunia. Beberapa hal yang diperjuangkan pada konferensi ini adalah kemerdekaan negara Aljazair, Tunisia dan Maroko serta menentang diskriminasi ras dalam segala bentuk.

Pada awalnya negara-negara adikuasa menganggap enteng keberadaan KAA. Namun KAA mampu menjadi penengah bagi kedua blok yang berseteru lewat Gerakan Non Blok (GNB) yang merupakan perkembangan dari KAA. GNB lahir karena ketidakinginan para pemimpin bangsa di Asia dan Afrika untuk bergabung dengan Blok Barat dan Blok Timur. Gagasan ini mampu meredakan ketegangan yang terjadi karena Perang Dingin.  Selain itu dampak positif dari KAA yang mulai diperhatikan negara di luar Asia dan Afrika adalah mulai berkurangnya diskriminasi ras di negara Amerika dan Australia. KAA yang diselenggarakan di tahun 1955 ini mampu memberikan imbas baik kepada negara-negara di Asia dan Afrika serta negara-negara yang tidak tergabung dalam KAA. Rasa solidaritas timbul bukan hanya karena latar belakang negara yang sama melainkan karena cita-cita akan perdamaian dunia yang diidamkan oleh setiap bangsa.

KAA dalam Masa 60 Tahun

Tahun 2015 menjadi tahun ke-60 penyelenggaraan KAA. Selama rentan tahun itu sudah banyak perubahan dan perkembangan yang terjadi pada negara-negara di Asia dan Afrika lewat KAA. Perkembangan yang terlihat nyata dari sisi ekonomi adalah kontribusi negara-negara yang tergabung dalam KAA di catatan milik Bank Dunia. Tercatat bahwa kontribusi yang diberikan dalam sumbangan PDB (Produk Domestik Bruto) dunia menjadi meningkat setelah terbentuknya KAA. Selain itu kerjasama ekonomi antar negara di Asia dan Afrika semakin terlihat nyata dan saling mendukung. Pada dasarnya, KAA tidak akan lari dari tujuan awal dibentuknya konferensi ini. Tetap mengusung keinginan untuk memperjuangkan kesejahteraan dan perdamaian dunia yang dibuktikan dengan adanya kesepakatan dari negara-negara peserta KAA untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Masih banyak tugas yang harus dilaksanakan setelah KAA 2015 berlangsung dan salah satunya adalah secara nyata ikut memperjuangkan kemerdekaan Palestina, tidak hanya berhenti pada pembahasan dalam KAA saja tetapi ada aksi nyata yang ditunjukkan kepada dunia.

[Penulis : Sara Megawati Silalahi]

Facebook
Facebook
Instagram