Membedah Film Yang Ketu7uh

Hellena (tengah), sutradara film Yang Ketujuh sedang memberikan pemaparan

 

Jakarta, ViaductPress,com – “Kekuatan film dokumenter terletak pada kemampuannya dalam menyentuh hati penonton tanpa adanya skenario, script, maupun acting dari narasumber yang dipertontonkan” ungkap Lex Ramadeta, pengamat sekaligus pencetak film-film dokumenter nasional, dalam acara Bedah Film: Yang Ketujuh yang diselenggarakan Senat Mahasiswa Fiabikom (Fakultas Ilmu Administrasi Bisnis, Ilmu Komunikasi, dan Hospitality) di Ruang Multimedia Teknik, Kampus Unika Atma Jaya, Jakarta, Rabu (18/2/2015).

Acara diskusi film yang dipandu salah satu Dosen di Fiabikom, yakni Andina Dwifatma, S.I.Kom turut menghadirkan dara manis sutradara film dokumenter Yang Ketujuh, Hellena Sousia, dan juga seorang pengamat sekaligus pencetak film-film dokumenter nasional, Lex Rambadetta.

Suasana tanya jawab bersama penonton di dalam ruangan

Acara yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam ini berlangsung sangat baik. Hal tersebut terlihat dari ekspresi penonton mengikuti alur film Yang Ketujuh saat diputarkan di awal acara. Para penonton seakan terbius oleh realita yang ditampilkan dalam acara ini. Bahkan para penonton terkadang tertawa dan bertepuk tangan ketika ada adegan-adegan lucu dan menginspirasi dari narasumber yang ada di film yang sedang dilombakan di Festival Film Perancis 2015 ini.

Puas menonton, sesi acara lalu dilanjutkan dengan sesi dialog antara para penonton dengan kedua narasumber acara tersebut. Diskusi terlihat cair dan mengalir ketika banyak dari penonton yang bahkan saling berebut untuk bertanya dan mengomentari film yang barusan mereka tonton. Mahasiswa yang hadir terlihat aktif dan seakan mengobati kerinduan akan sepinya kegiatan berdiskusi di kalangan mahasiswa.

Melihat dari Sudut Pandang Kaum Bawah

“Film ini bukan soal Jokowi maupun Prabowo secara pribadi. Kalau soal itu (pribadi mereka) bisa saja kita lihat di TV mereka masing-masing, kan?” ungkap Kak Hellena yang disambut tawa audiens.

“Orang selalu berpikiran politik itu elit lah, ranahnya politisi lah. Sedangkan di film ini, kami mengangkat sudut pandang dari ‘dapur’ belakangnya, yakni dari sisi masyarakat kecil. Kita seringkali lupa bahwa mereka itu ada, meskipun gak punya suara di media dan sosial media,” tambahnya ketika ditanya mengenai latar belakang produksi film Yang Ketujuh.

Ternyata, film ini tidak dibuat dalam waktu singkat. Persiapannya sudah berlangsung jauh sebelum Pemilu dimulai pada bulan Juli, yakni sejak awal tahun 2014. Film yang diproduksi berkat kerja sama 19 videografer dan komunitas videografer di berbagai daerah ini mengikuti keseharian orang-orang yang terpilih berkat riset mendalam yang dilakukan tim produksi .

Pembicara dan panitia berfoto bersama sebelum acara usai

Proses syuting dibagi ke dalam 2 tim. Tim pertama bertugas untuk mengikuti keseharian masyarakat kecil di berbagai daerah, sedangkan tim kedua bertugas mengikuti kegiatan para elit politik yang bertarung dalam Pemilu 2014. Setelah selesai masa pencoblosan, video-video yang berasal dari berbagai kamera kemudian dikumpulkan dan mulai diolah berdasarkan alur kejadian yang sebenarnya. Salah satu fakta mengejutkannya adalah jumlah file yang terkumpul sebanyak 124 harddisk yang masing-masing mempunyai berkapasitas hingga 2 tera. Bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mereka mengolah video-video itu menjadi sebuah film yang utuh, bukan?

“Menurut gue acara ini bagus sekali dan panitia bagus bikin acaranya. Cuma agak disayangkan karena pengamat filmnya harusnya bisa lebih baik. Kalau kita lihat kan daritadi fokus perhatian (diskusi) menjadi ke sutradara doang. Harapannya sih FIA bisa bikin diskusi film Senyap kedepannya.. He..He..” ungkap Reza (Fiabikom 2012), salah satu penonton yang hadir di acara ini.

Kak Hellena juga memberikan apresiasi positif terhadap jalannya acara ini. “Saya suka antusiasme mahasiswa disini. Keliatan aktif dan punya concern yang baik terhadap politik. Mudah-mudahan dari film ini, mahasiswa lebih peka terhadap realita sosial di sekitar mereka” tambahnya.

Benjamin Pratomo, Ketua penyelenggara acara “Bedah Film: Yang Ketujuh” mengatakan bahwa acara ini diadakan karena kurangnya minat mahasiswa terhadap politik dan kesejahteraan rakyat. Melalui kegiatan ini, ia ingin mengajak mahasiswa untuk mulai peka dan juga mau membuat video-video dokumenter tentang masalah sosial masyarakat, tidak hanya kelas atas tetapi juga menegah kebawah.

Kak Hellena mengungkapkan tujuan dari adanya film ini yaitu agar peristiwa bersejarah tahun 2014 ini bisa terdokumentasikan dan juga sebagai cermin kepada para elit politik agar bisa berbenah diri. Ia juga mengatakan bahwa film yang akan diproduksi selanjutnya telah masuk tahap produksi, berjudul Jalan Soeharto. Hmm… Patut ditunggu ya teman-teman..

[Penulis: Bossga Hutagalung]

Facebook
Facebook
Instagram